Prajogo Pangestu: Kisah Inspiratif dari Sopir Angkot Menuju Miliarder, Tercoreng Penurunan Saham Barito Pacific

Prajogo Pangestu: Kisah Inspiratif dari Sopir Angkot Menuju Miliarder, Tercoreng Penurunan Saham Barito Pacific

Nama Prajogo Pangestu kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, bukan karena kisah suksesnya yang inspiratif, melainkan karena penurunan drastis saham PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN), salah satu perusahaan miliknya, yang mencapai 26,58% dalam sepekan terakhir.

Penurunan ini menyebabkan saham BREN masuk dalam kategori Auto Reject Bawah (ARB), sebuah indikator yang menunjukkan penurunan signifikan dalam nilai saham.

Meskipun mengalami kemerosotan pada salah satu perusahaannya, Prajogo masih kokoh di puncak kekayaan Indonesia. Ia menempati posisi pertama dalam daftar Forbes Real Time Billionaires untuk kategori Indonesia per 6 Juni 2024, dengan total kekayaan diperkirakan mencapai US$ 52,9 miliar atau sekitar Rp846,4 triliun.

Kisah Inspiratif dari Latar Belakang Sederhana

Kisah sukses Prajogo Pangestu berawal dari latar belakang yang sederhana. Lahir pada 13 Mei 1944 di Sambas, Kalimantan Barat, ia merupakan anak seorang pedagang getah karet.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Nan Hua di Singkawang, Prajogo merantau ke Jakarta untuk mencari peruntungan. Namun, nasib berkata lain. Ia gagal mendapatkan pekerjaan di ibu kota dan harus kembali ke Kalimantan.

Di kampung halamannya, Prajogo bekerja sebagai sopir angkot rute Singkawang-Pontianak. Tak hanya itu, ia juga berjualan kebutuhan dapur seperti ikan asin dan bumbu-bumbu.

Perubahan besar dalam hidup Prajogo terjadi pada tahun 1960 ketika ia bertemu dengan Burhan Uray, seorang pengusaha kayu asal Malaysia. Pertemuan ini membuka jalan bagi Prajogo untuk memasuki dunia bisnis.

Pada tahun 1969, Prajogo bergabung dengan perusahaan milik Burhan, PT Djajanti Group. Tujuh tahun kemudian, ia diangkat menjadi General Manager di Pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur.

Keberanian dan Tekad Mengubah Nasib

Pada tahun 1977, Prajogo mengambil langkah berani dengan membeli perusahaan yang tengah mengalami krisis keuangan, CV Pacific Lumber Coy, dengan meminjam uang dari bank. Ia kemudian mengubah nama perusahaan ini menjadi PT Barito Pacific.

Keputusan berani Prajogo membuahkan hasil. PT Barito Pacific berkembang pesat dan pada tahun 2007 resmi berubah nama menjadi Barito Pacific Timber (BRPT). Perusahaan ini kemudian mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia Chandra Asri.

Prajogo melanjutkan ekspansi bisnisnya dengan mendirikan PT Chandra Asri Petrochemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia, menciptakan produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Kesuksesan diwarnai Penurunan Saham

Di tengah kesuksesannya, Prajogo harus menghadapi kenyataan pahit dengan anjloknya saham BREN. Pada hari pertama perdagangannya di bursa Indonesia, 7 Juni 2023, harga saham BREN turun 9,70 persen ke level Rp6.050.

Penurunan ini menjadi pukulan telak bagi Prajogo dan para investor BREN. Meskipun demikian, Prajogo tetap dikenal sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia dengan perjalanan hidup yang inspiratif.

Kisah Prajogo Pangestu menunjukkan bahwa dengan ketekunan, kerja keras, dan keberanian, seseorang dapat mencapai kesuksesan luar biasa, bahkan dari latar belakang yang sederhana.

Copywritter, Freelancer dan Penulis. Senang Membaca dan Berbagi Informasi.