Pengenalan AKM 2021/2022

Pengenalan AKM 2021/2022 ~ Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemdikbud, Totok Suprayitno menuturkan, perkenalan pola asesmen kompetensi minimum (AKM) dan survei abjad menjadi langkah pertama yang hendak dipraktekkan pada pelaksanaan UN 2020 mendatang. Kemdikbud akan menitipkan pola soal asesmen yang hendak dipakai pada 2021 dalam pelaksanaan UN tahun depan.
Menurut Totok, ada lima soal atau item yang termasuk kesanggupan bernalar literasi, numerasi, dan penguatan pendidikan abjad untuk memberi pola terhadap guru wacana desain AKM yang dimaksud.
“Ada juga soal esai atau uraian untuk menganalisis. Makara polanya seumpama apa, itu nanti kita titipkan di UN. Kita titipkan juga di guru waktu gladi resik UN, supaya gurunya menyaksikan juga pengelolaan survei karakternya,” ungkapnya dalam diskusi bertajuk “Asesmen Nasional, Dapatkah Mengembalikan Esensi Belajar?” di Gedung Perpustakaan Kemdikbud Jakarta, Kamis 19 Desember 2019.
Selanjutnya, Totok menegaskan, lima soal yang dititipkan pada pelaksanaan UN ini tidak tergolong dalam 40 butir soal UN, sehingga tidak akan mensugesti hasil selesai skor UN. Dijelaskan dia, soal tersebut dilaksanakan setelah siswa melaksanakan UN selaku bentuk pengenalan akan denah asesmen.
“Harapannya itu dapat buat materi renungan bagi guru untuk berimajinasi wacana bagaimana ke depan. Saya akan menjajal menghasilkan soal sejenis ini dan menjajal bagaimana mengajarkan anak supaya lebih imajinatif mengarahkan kompetensi bernalar seumpama itu. Ini salah satu cara kita untuk mengenalkan asesmen supaya guru meresapi dan memperbaiki dirinya,” ujarnya.
Lantas apa Asesmen?
Asesmen tidak dilakukan berdasar mata pelajaran atau penguasan materi kurikulum seumpama dikala ini. Asesmen melaksanakan pemetaan terhadap dua kompetensi minimum siswa yakni Literasi dan numerisasi.
Dijelaskan juga dalam laman resmi Kemdikbud (gtk.kemdikbud.go.id) Literasi bukan cuma kesanggupan membaca, tetapi kesanggupan menganalisis sebuah bacaan dan mengerti desain isi goresan pena tersebut. Dan Numerisasi kesanggupan menganalisis menggunakan angka.
Kemudian, untuk memajukan kualitas guru, pemerintah sedang menggodok pola pembinaan guru yang sempurna sasaran tanpa ongkos besar. Pasalnya, beliau mengakui pola pembinaan yang masih dipraktekkan dikala ini memerlukan alokasi budget yang sungguh besar. “Pelatihan terang memerlukan cost yang sungguh besar. Apalagi kalau idenya itu yakni penyeragaman materi dan sebagainya. Kita berpikir untuk langkah pertama menjajal mengenalkan pola asesmen,” ujarnya.
 
Demikian, supaya bermanfaat
Bagikan :